Kamis, 23 Juli 2020

BAB III PERUBAHAN MASYARAKAT INDONESIA PADA MASA PENJAJAHAN DAN TUMBUHNYA SEMANGAT KEBANGSAAN ; Kedatangan Bangsa Barat

Mengapa mereka datang ke Indonesia?

1. Daya Tarik Indonesia


Berbagai hasil bumi di Indonesia tidak hanya menjadi konsumsi bangsa-bangsa Asia, tetapi juga menjadi salah satu incaran bangsa-bangsa barat.

Bangsa barat sangat membutuhkan rempah-rempah sementara persediaan di Eropa sangat terbatas. Rempah-rempah digunakan untuk mengawetkan makanan, bumbu masakan, dan obat-obatan.

Negara-negara tropis seperti Indonesia kaya akan rempah-rempah sehingga bangsa-bangsa barat berusaha memperolehnya.

2. Motivasi 3G (Gold, Gospel, Glory)


Gold, Gospel, Glory merupakan motivasi bangsa-bangsa Barat melakukan penjelajahan samudera.

Gold artinya emas yang identik dengan kekayaan. Semboyan ini menggambarkan bahwa tujuan bangsa Barat ke Indonesia adalah untuk mencari kekayaan.

Glory bermakna kejayaan bangsa.

Gospel adalah keinginan bangsa Barat untuk menyebarluaskan atau mengajarkan agama Nasrani khususnya agama Kristen ke bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan.

3. Revolusi Industri


Revolusi industri adalah pergantian secara menyeluruh dalam memproduksi barang dari sebelumnya menggunakan tenaga manusia menjadi tenaga mesin.

Berkembangnya revolusi industri menyebabkan bangsa-bangsa barat memerlukan bahan baku yang lebih banyak. Mereka juga memerlukan daerah pemasaran untuk menjual hasil-hasil industrinya.

Penemuan mesin uap yang dapat dijadikan mesin penggerak perahu mendorong penjelajahan bangsa-bangsa Barat serta memperpendek waktu perjalanan.

Penemuan lain seperti kompas, mesin pintal, dan sebagainya memicu bangsa-bangsa Barat untuk melakukan berbagai petualangan.

Bagaimana proses kedatangannya?

1. Bangsa Portugis


Perjalanan Portugis mencari sumber rempah-rempah diawali dari kota Lisabon, Portugis.

Pada tahun 1486, Bartolomeus Diaz melakukan pelayaran pertama menyusuri pantai barat Afrika. Ia bermaksud melakukan pelayaran ke India, namun gagal.

Portugis mencapai Malaka pada tahun 1511 di bawah pimpinan Alfonso d'Albuquerque. Ia berhasil menguasai Malaka dan Myanmar. Selanjutnya Portugis menjalin hubungan dagang dengan Maluku.

Pada tahun 1512, bangsa Portugis telah berhasil sampai di Maluku dibawah pimpinan Antonio de Abreu dan Fransisco Serao.

2. Bangsa Inggris


Persekutuan dagang milik Inggris diberi nama EIC (East Indian Company). Didalamnya bergabung para pengusaha Inggris.

Walaupun Inggris tiba di Kepulauan Nusantara, pengaruhnya tidak terlalu banyak seperti halnya Belanda.

Hal ini disebabkan EIC terdesak oleh Belanda, sehingga Inggris menyingkir ke India/Asia Selatan dan Asia Timur.

3. Bangsa Belanda


Seorang pelaut Belanda bernama Cornelis de Houtman memimpin ekspedisi ke Indonesia.

Pada tahun 1595, armada de Houtman mengarungi ujung selatan Afrika, selanjutnya terus menuju ke arah timur melewati Samudera Hindia. Pada tahun 1596, armada de Houtman tiba di Pelabuhan Banten melalui Selat Sunda.

Kedatangan Houtman di Indonesia kemudian disusul ekspedisi-ekspedisi lainnya. Dengan banyaknya pedagang Belanda di Indonesia maka muncullah persaingan di antara mereka sendiri.

Untuk mencegah persaingan yang tidak sehat, pada tahun 1602 didirikan Vereenigd Oost Indische (VOC/Perserikatan Maskapai Hindia Timur) yang merupakan merger (penggabungan) dari beberapa perusahaan dagang Belanda.

Gubernur Jenderal pertama VOC adalah Pieter Both. Ia mendirikan pusat perdagangan VOC di Ambon, Maluku.

Namun kemudian pusat dagang dipindahkan ke Jayakarta (Jakarta) karena VOC memandang bahwa Jawa lebih strategis sebagai lalu lintas perdagangan. Selain itu, Belanda ingin menyingkirkan saingan mereka, yaitu Portugis di Malaka.

Pangeran Jayawikarta (penguasa bagian wilayah Banten) memberi izin kepada VOC untuk mendirikan kantor dagang di Jayakarta.

Selain memberikan izin kepada VOC, Pangeran Jayawikarta juga memberikan izin pendirian kantor dagang kepada EIC (Inggris). Kebijakan ni membuat Belanda merasa tidak menyukai Pangeran Jayawikarta.

Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterzoon Coen membujuk penguasa Kerajaan Banten untuk memecat Pangeran Jayawikarta, sekaligus memohon agar izin kantor dagang Inggris EIC dicabut.

Pada tanggal 31 Mei 1619, keinginan VOC dikabulkan raja Banten, Meomentum inilah yang kemudian menjadi mata rantai kekuasaan VOC dan Belanda pada masa berikutnya.


VOC menikmati keleluasaan dan kelonggaran yang diberikan penguasa Banten. Jayakarta oleh VOC diubah namanya menjadi Batavia. VOC mendirikan benteng sebagai tempat pertahanan, pusat kantor dagang, dan pemerintahan.

Pengaruh ekonomi VOC semakin kuat dengan dimilikinya hak monopoli perdagangan. Masa inilah yang menjadi sandaran perluasan kekuasaan Belanda pada perjalanan sejarah selanjutnya.

0 komentar:

Posting Komentar